Home » » Sajak-sajak Evi Idawati, Republika 17 November 2008

Sajak-sajak Evi Idawati, Republika 17 November 2008

REDUM KARANG

Akar langit bergelantung di tubuh bumi Memahat takdir dari lisan rerumputan Terhampar awan bagi sujud dan keheningan "Ceritakan padaku kisah bintang, detak yang terpanggang ruh bagi awan dan halilintar."

Bergetar sayap capung di rebah pepohonan Engkau menyusui umbi yang tertanam Daunnya menjalar berkeliaran Merajai arah sambil menabuh tubuh Aku berdendang merajam malam "Jasad ini aku persembahkan bagi kesakitan rekaman lara dan ketaklukan."

Tatah tubuhku dengan bibirmu, lelakiku Jelajahi semesta yang aku bangun di rahimku Aku mengendapkan matahari di sana Menunggangi waktu Engkau menggiring peluh Menjelmakan embun Merandai di dada Merambat lambat menggenang Di pusar denyut samuderaku dari redum karang yang terendam

Yogyakarta, 2008


SAJADAH

telah aku terima sajadah yang engkau kirimkan kepadaku, kekasihku yang bertuliskan namamu yang engkau titipkan lewat rabiah

dia berkata-kata padaku tentang dirimu dan memberikan aku mangga yang ranum dia juga menunjukkan karpet yang beragam padaku tapi dia menggulung milikku dan menyerahkannya pada seorang lelaki untuk membawanya pergi

"kamu lebih memerlukan sajadah daripada karpet. bergegaslah. bayarlah aku limaribu kamu akan mendapatkan milikmu"

lalu lelaki itupun pergi membawa gulungan karpet tanpa menoleh lagi padaku padahal dia yang menyeret tanganku melintasi awan membelah lautan dan menghadapkan aku padamu

telah aku terima ikrar yang disebutkan rabiah padaku, kekasihku dengan luapan cinta dan pemujaanku padamu aku senantiasa menyapa langit dan semesta menyerahkan diriku untuk mencintaimu getar dan detak tangis yang menggenangi pori-pori limpahan rindu untuk dirimu

telah aku terima semua yang dikatakan rabiah padaku, kekasihku mutlak! maafkan, jika senantiasa aku meminta ridho dan kasihmu

Jakarta, 2008


AKU MEMETIK NAMAMU DARI LANGIT

Bukan pada fajar aku menengadah Dan menemukan namamu di langit Lalu memetiknya Dan meletakkannya di hatiku Tapi waktu tengah malam kala semesta benderang Dan awan mengirimkan isyarat dan tanda masa depan

Aku memetik namamu dari langit Mengumpulkan bintang dan menaburkanya di matamu Kerlip dan binarnya seperti arus Yang menghanyutkan aku dalam beliungnya Hamparkan hatimu untukku Menjadi sajadah, mihrab dan nadiku Jika sunyi masih mendekam

Dan aku menggapai sayap yang tertinggal Aku sedang menjadi penjaga bagimu

Aku mengambil namamu dari langit Membangun rasi bintang dan menimbunnya Akan tiba saatnya sinarnya cemerlang Melesat keatas dan berbinar Kau tahu, aku mengukirnya Dalam rintihan dan desah kata Yang menjagaku senantiasa Terbang dan mengepakkan sayapku Menabur percik cahaya abadi di hatimu

Yogyakarta, 2008

Tulisan ini dimuat di Republika tanggal 17 November 2008.


Evi Idawati