Home » , » Film Telapak Tangan Djonggrang: Membaca Perempuan Perkasa Kasongan

Film Telapak Tangan Djonggrang: Membaca Perempuan Perkasa Kasongan

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Kehidupan tradisi masyakarat pengrajin gerabah Kasongan, Bantul, memberikan inspirasi Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain ITB dalam riset ilmiahnya. Hasil penelitian yang diketuai Acep Iwan Saidi itu tak hanya dituangkan dalam laporan tertulis.

Satu terobosan baru dunia riset, hasil penelitian selama 10 bulan (Januari-Oktober 2010) dibingkai dalam film seni dokumenter, Telapak Tangan Djonggrang. Disutradarai penyair perempuan dan aktris teater, Evi Idawati, film ini mengedepankan Mbok Giyem (diperankan Nena Cunara), penjaja gerabah sebagai tokoh utama.

“Film ini sangat dominan elemen visual. Artinya, narasi dokumen tak diartikulasikan secara verbal. Namun, dengan kekuatan gambar dan karakteristik para pelakunya,” tutur Evi kepada Tribun Jogja, Senin (11/4).

Sebagai sutradara, Evi meyakini gambar memiliki kekuatan memproduksi pesan dan makna, yang tidak terbatas. “Ambiguitas itulah yang justeru menjadikan film dan karya seni memiliki greget,” sambungnya.

Terkait Kasongan sebagai objek riset, secara tematis, mengajak orang sejenak menengok ruang sempit yang terlewatkan. Dikatakan, karya seni bukan hanya soal benda, tapi menjadi sarana bagi pembentukan karakter. Karena itu, katanya, konsekuensi dari perjalanan peradaban, manusia dituntut beradaptasi dan mengaktualisasi diri.

Film ini didukung Nunik Widiasih (Djonggrang), Nasirun, Memet Chaerul Slamet (Kyai Song), Dewi Rengganis (sinden), dan Suwardi Endraswara (dalang). “Gerabah Kasongan punya karakter, sehingga memiliki nilai jual. Ia tak bisa dicetak, tapi harus diciptakan. Ia lahir dari rahim terdalam kreativitas, memancar dari ruh kebudayaan,” paparnya.

Publik negeri ini tahu Kasongan sebuah desa yang mayoritas penduduknya memiliki keahlian mencipta gerabah. Bagi masyarakat Kasongan, terang Evi, gerabah bukan sekadar benda, tapi bagian dari sejarah kehidupan mereka.

“Saat ini, gerabah Kasongan sebagai karya seni. Ia tak hanya fungsional sebagai barang-barang keperluan keluarga, tapi juga artefak seni, “guci” tempat seni kontemporer yang dieksplorasi,” ucap Evi lagi.

Evi berencana membawa film ini pada festival film dunia. Ia memang ingin mengusung pada festival Indonesia. Namun durasi kategori film seni dokumenter ini tak mau kriteria festival negeri ini. “Justru saya ingin mengikutkan pada festival film internasional. Kami sedang menyiapkannya," lanjutnya.(*)

Laporan Reporter Tribun Jogja, Mona Krisdinar


Evi Idawati